Selasa, 28 Oktober 2014

Kelompok 6


Mata kuliah:                                                                      Dosen Pengampu:
Bimbingan Konseling Keluarga                         M. Fahli Zatra Hadi, M.Pd

Peranan Ayah dalam Keluarga

DISUSUN OLEH:
INDRA FIKA
IRMA NOPRIANTI
REZA ANGGRAINI
YUDIAN SAPUTRA

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF QASIM
RIAU
2013/2014



BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sejarahnya, hampir tidak pernah menguas secara khusus masalah keayahan (Fatherhood). Malah cenderung mengabaikannya. Posisi ayah akhirnya menjadi tidak begitu menarik dan penting. Secara terbatas sekali masalah keayahan baik peran ayah dalam fungsinya sebagai orang tua, sebaliknya sangat menekankan pentingnya tokoh ibu dalam perkembangan anak.
Ayah akhirnya seperti sudah terkondisi bukan sebagai pengasuh anak, dan lebih sibuk sebagi pencari nafkah. Ia memiliki citra keperkasaan dan kekokohan, namun jauh dari anak-anaknya dan seakan melepas tanggung jawab membina kehidupan anak secara langsung. Keadaan ini dikukuhkan dalam kehidupan masyarakat, dan diterima begitu ssaja seolah sesuatu yang sudah semestinya.
Tetapi belakangan ini, kondisi ini mulai disoroti dan digugat. Bukan karena berkembangnya gerakan feminisme, tetapi karena semakin timbulnya kesadaran baru bahwa betapa pentingnya partisipasi seorang ayah dalam membina pertumbuhan fisik dan psikologis anak. Seanainya ayah tidak ikut aktif memperhatikan perkembangan anaknya, maka sudah pasti akan terjadi ketimpangan. Apalagi kaum wanita dewasa ini lebih banyak menghabiskan waktunya dalam berbagai kegiatan diluar urusan keluarga. Tetapi masalah peranan ayah dalam mengasuh anak masih menjadi kontroversi dan polemic. Maka sampai sekarang belum ada suatu gambaran yang seragam tentang peranan ayah. Dalam prakteknya, ada ayah yang tidak memperdulikan sama sekali urusan mengasuh dan mendidik anak-anaknya, tetapi ada yang justru aktif membina anaknya. Bahkan ada pula ayah yang hanya sendiri mengasuh anak tanpa perlu keterlibatan istrinya lagi.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    KONTROVERSI PERANAN AYAH
1.      Beberapa Teori Keayahan
Teori-teori keayahan baru muncul dan berkembang sejak tahun 1970-an dan hasil berbagai penelitian banyan mengubah secara drastis konsep dan anggapan tentang keayahan.
Anggapan lama masyarakat ialah seorang ayah sesungguhnya tidak terlalu berperan dalam kehidupan anak. Dibandingkan dengan itu, ayah memang kelihatan jauh dari anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih dalam masyarakat lampau. Pandangan macam itu terus berkembang dan dipertahankan dari waktu ke waktu didalam masyarakat. Bahkan muncul teori-teori yang justru memperkuatnya. Dua ahli terkenal yang bisa disebut memperkuat pandangan lama ini ialah Sigmund Freud, seorang psikoanalisis, dan Jhon Bowlby, seorang ethologis Inggris. Teori dari dua tokoh ini sering menjadi referensi pemikiran yang menekankan bahwa tokoh ibu merupakan sentral dalam kehidupan anak.
Pikiran Freud yang paling penting dan masih berpengaruh kuat sampai sekarang ialah teorinya tentang perkembangan sosial seseorang sangat ditentukan oleh pengalaman pada awal masa kanak-kanak. Menurut Freud, tingkat pemuasan pada masa kanak-kanak akan sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang dikemudian hari.
Freud berPendapat bahwa hubungan sang anak dengan ibunya sangat berpengaruh dalam pembentukan pribadi dan sikap-sikap sosial si anak di kemudian hari. Menurut Freud, peranan ayah itu tidak diperhitungkan. Ayah tidak mempuyai pengaruh bagi perkembangan anak, Freud menekankan bahwa peranan ayah itu baru muncul pada tahap akhir kanak-kanak. Para pengikut aliran Freud menyetujui pentingnya peranan tokoh ibu pada masa bayi dan pada masa kanak-kanak. Ibulah tokoh utama dalam proses sosialisasi anak.
Pemikiran Freud akhirnya menjadi sorotan beberapa ahli dan pandangan Freud itu akhirnya juga digugat, apakah kegiatan-kegiatan yang dilakukan kaum ibu itu menjadi alas an menyampingkan peran tokoh ayah? Beberapa tahun belakangan teori Freud cenderung dipertanyakan.
Kemudian muncul teori-teori baru yang mencoba meninjau kembali kebenaran pikiran pikiran Freud. Pada tahun 1940-an dan 1950-an, Robert Sears dan Jhons Whiting misalnya mencoba meneliti kembali dikaitkan dengan teori belajar modern. Kedua psikolog ini berpendapat, anak-anak itu dapat memperoleh kepuasaan apabila dorongan-dorongan biologis dasar seperti lapar dan haus itu diatasi. Dalam soal ini seorang ibu memang mudah dilihat berperan penting bagi seorang anak terutama karena selalu menyuapkan makanan kepada anaknya. Sebaliknya, seorang ayah biasanya kurang terlibat dalam member makan. Tetapi tidak bisa begitu saja dapat disimpulkan ayah kurang berperan dalam perkembangan anak.
Sementara bowlby yang sama seperti Freud kembali menekankan pentingnya tokoh ibu, kehilangan tokoh seorang ibu dapat menimbulkan problem dalam perkembangan anak selanjutnya. Sikapnya ini terungkap dalam tulisan klasiknya, “The Nature of Child’s Tie to Hits Mother (Hartkat anak tergantung pada ibu). Kehidupan seseorang, lebih-lebih pada masa kanak-kanak, sangat ditentukan oleh peran Ibu.
Bowly menganalisis dan mengemukakan argumentasinya tentang pentingnya keterikatan antara anak dengan orang tuanya. Tetapi pada akhirnya ia menekankan tokoh ibu yang menjadi sentral dalam membimbing anak kearah kedewasaan. Bowlby mengutarakan, ikatan emosional yang mendalam antara anak dan ibu, akan membetuk pola respon tertentu bagi anak terhadap stimulasi dari luar. Peranan ibu dinilai paling penting, melebihi peranan yang lain dalam membangun kepribadian anak. Hanya ibulah yang bisa dengan cepat mengerti dan mampu menanggapi setiap gerak-gerik nayi, Ibu segera tahu kalau anaknya hendak menangis, senyum atau lapar.
Meski uraian Bowlby dan Freud tentang perkembangan awal dan proses sosialisasi seseorang berbeda, tetapi kesimpulan akhir analisis mereka sama yaitu keduanya menganggap tokoh ibu sangat penting pada masa kanak-kanak seseorang. Seperti Freud, Bowlby menempatkan peran ibu sebagai sentral dalam perkembangan awal anak. Sedangkan kedudukan ayah hanya bersifat peran sekunder saja. Suami semata-mata sebagai pendorong moral bagi istrinya.
Secara biologis juga dapat diterangkan mengapa kedudukan ibu lebih penting dari ayah dalam mengasuh anak. Perbedaan struktur biologis antara ayah dan ibu membawa perbadaan peranan pula bagi kehidupan anak. Ibu bisa memberikan air susunya dan memiliki hormon keibuan yang menentukan tingkah lakunya terhadap anak. Sebaliknya, seorang ayah tidak dilengkapi secara biologis untuk menyusui anak dan tidak memiliki bawaan yang mencolok untuk mengasuh anak.
Namun, peran antara ayah dan ibu bukan semata-mata ditentukan oleh faktor biologis, dan sesungguhnya untuk mendefinisikan bagaimana peranan orangtua itu dalam mengasuh anak dapat diungakapkan dalam berbagai variasi. Hal ini tergantung pada faktor sosial, situasi lingkungan, suku, kebudayaan, dan tradisi yang seringkali berbeda-beda.
Analisis dan anggapan bahwa faktor biologis yang membedakan peran ayah dengan ibu, kini memeng tidak dianggap serius lagi dan hanya sebagai mitos saja. Ross de Parke bahkan menegaskan, faktor biologis itu tidak dapat dipergunakan lagi sebagai argumentasi untuk menjelaskan perbedaan ayah dan ibu dalam keluarga. Pandangan lama tentang ayah dan perannya hanyalah suatu penyimpangan pikiran zaman. Sudah muncul revolusi pemikiran yang menempatkan betapa tokoh ayah pentingdalam proses pengasuhan dan perkembangan anak. Tidak dapat diterima lagi anggapan yang menempatkan ayah hanya sebagai tokoh sekunder dalam mendidik anak. Tidak ada alasan yang kuat pula untuk menempatkan terlalu tinggi posisi ibu dalam perkembangan anak. Kini sudah sngat diragukan kesahihan pandangan yang membeda-bedakan posisi ayah dan ibu terhadap anak.
2.      Memahami Peran Ayah
Para ahli Psikologi dewasa ini cenderung meninggalkan hal-hal yang terlalu bersifat teoritis, dan banyaak mengalihkan perhatian ke observasi langsung. Termasuk soal peranan ayah. Sejak tahun 1970-an, banyak ahli psikologi secara langsung meneliti peran ayah dalam keluarga.
Hasil penelitian terhadap perkembangan anak yang tidak mendapat asuhan dan perhatian ayah menyimpulkan, perkembangan anak menjadi pincang. Kelompok anak yang kurang mendapat perhatian ayahny cenderung memiliki kemampuan akademis menurun, aktifitas sosial terhambat, dan interaksi sosial terbatas. Bahkan bagi anak laki-laki, ciri maskulinnya (cirri-ciri kelakian) bisa menjadi kabur.
Peranan ayah sangat pentig dalam perkembangan anaknya secara langsung. Mereka dapat membelai, mengadakan kontak bahasa, berbicara, atau bercanda dengan anaknya. Semuanya itu akan sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. ayah juga dapat mengatur serta mengarahkan aktivitas anak, misalnya menyadarkan anak bagaimana menghadapi lingkungannya dan situasi diuar rumah. Ia memberi dorongan, membiarkan anak mengenal lebih banyak, melangkah lebih jauh, mengajarkan mereka membaca, mengajak anak untuk memperhatikan kejadian-kejadian dan hal-hal yang menarik di luar rumah, serta mengajak anak berdiskusi. Semua tindakan ini adalah cara ayah (orang tua) untuk memperkenalkan anak dengan lingkungannya dan dapat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan sosial dan membantu perkembangan kognitifnya di kemudian hari.

B.     CALON AYAH DAN KETIKA ISTRI HAMIL
1)      Kehamilah Tanggung Jawab keluarga
Kehamilan termasuk salah satu periode krisis dalam kehidupan seorang wanita. Tak dapatdielak, situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik tetapi juga psikologis. Dalam aspek psikologis, timbul pengharapan yang disertai kecemasan menyambut persiapan kedatangan bayi. Semuanya itu ikut mewarnai interaksi antara anggota dalam keluaga.
Ketika ibu hamil maka terjadilah perubahan sikappada diri ayah. Ayah menjadi tampak sangat hati-hati, penuh memahami, dan selalu berusaha menjaga hubungan damai dengan istrinya.
Masa kehamilan dapat dibagi dalam tiga fase;
Pertama meliputi tiga bulan pertama kehamilan.Dalam periode itu,calon ibu (ibu) sering mengalami ketegasan fisik dan psikis. Ia sering muntah, perut mules, merasa lelah, pusing, cepat tersinggung, dan selalu cemas.
Dalam suatu penelitian terhadap pasangan suami dan istri. Pauline Shereshefsky dan L.J. Yarrow mengatakan, selama periode ini sikap istri menjadi lebih sensitif dan cenderung berperasa, cemas, takut, gelisah atau kadang-kadang perubahan perasaan yang mendadak.
Perkembangan janin pada periode ini berawal dari turunnya ovum (sel telur) setelah pembuahan dari tube (saluran indung telur) ke uterus. Kemudian terjadilah pemecahan sel dan formasi dari embrionik,dan suatu organisme baru mulai berkembang. Formasi awal, terdapat tiga lapisan sel, yaitu ectoderm, mesoderm, dan endoderm. Dari lapisan ectoderm terbentuk organ dan sistem saraf. Sedangkan mesoderm membentuk sirkulasi darah, skeletal (kerangka), sistem otot. Lapisan endoderm membentuk susunan pencernaan dan susunan kelenjer. Pada bulan kedua, embrio itu sudah sebesar 3,8 cm(1,5 inci). Kerangka embrional tulang dan otot mulai tampak sebagai bangun luar dari tubuh,muka dan leher mulai berkembang dan sudah tampak bentuk manusia. Dahi menonjol, otak mulai berkembang, jauh lebih awal dibanding organ lain. Anggota badan mulai tumbuh. Otot dan tulang rawan mulai berkembang. Organ seks mulai terbentuk.
Pada fase kedua ( tiga bulan kedua ) mucul perubahan lain. Perasaan gelisah dan tekanan darah yang cenderung tinggi,pelan-pelan mulai menghilang. Ibu mulai merasa ada sesuatu gerakan dalam perut sebagai isyarat jelas bahwa ada janin dalam perut ibu,mulai terasa pada akhir bulan keempat. Adanya gerakan janin dalam perut, membawa pengaruh pada  kedua orang tua. Makin hari makin besar dan kedua orang tua tanpak senang terutama sang ayah.
Dalam  suatu penelitian terhadap pasangan suami dan istri yang sedang hamil, sebagian besar kelompok sang ayah mengungkapkan perasaan senang tetapi setengah dari kelompok ibu meberi reaksi tidak senang.Yang jelas,gerakan janin dalam perut ibu dapat menciptakan rasa tentram,tergantung  pada kondisi rahim ibu.
Pada bulan kelima,struktur pembentukan kulit memasuki tahap akhir.Kelenjer keringat dan lemak mulai terbentuk dan berfungsi.Kulit ditempat tertentu mulai tampak dan juga rambut,kuku pada jari tangan dan kaki.Sendi pada tulang sudah berkembang dan berfungsi.
Pada fase ini janin sudah tampak ramping. pada bulan keenam pembentukan mata berakhir, indera pengecap sudah muncul pada lidah dan mulut. Ketika lahir si bayi segera memperlihatkan kemampuan itu.
Fase terakhir pertumbuhan janin  berlangsung pada periode tiga bulan terakhir (bulan ke-7 sampai ke-9). Pada fase ini calon ibu mulai lagi merasa tertekan dan gelisah.Berat badan calon ibu mulai bertambah drastis antara 10,5 kg sampai 15 kg. Calon ibu sering merasa lelah, tidak enak, sukar tidur, kaki tangan bengkak, dan nafas pendek. Semua gejala itu dapat membuat calon ibu merasa cemas, mudah tersinggung, dan lekas marah seperti gejala pada periode pertama masa kehamilan.
Bagaimanakah sikap dan reaksi seorang ayah pada fase kehamilan itu? Berbagai cara kaum pria menghadapi situasi ini. Ada suatu fenomena yang memukau perhatian yang disebut couvade. Istilah yang bersal dari bahasa Prancis artinya  couver ( mengaram dan menetas ). Antropologi inggris, Sir Edward Taylor, melansir istilah itu tahun 1865 dengan menjelaskan sebagai berikut.
Dalam masyarakat primitif, jika saatnya yang ditentukan sudah tiba, istri yang hamil merabah ke pangkuan suaminya dan si suami mengangkatnya ke tempat tidur. Ini termasuk salah satu upacara menunggu kelahiran. Si ibu melakukan situasi bersalin seperti mengarang kesakitan.Acara ini sekurang-kurangnya mempunyai dua tujuan. Pertama, untuk memperlihatkan kepada semua orang,meski dalam arti simbolis, bahwa sang suami hadir saat istrinya melahirkan.  Kedua, untuk mengoceh roh jahat.
Dalam kebudayaan lain couvade ini dibuat dalam bentuk lakon yang mencolok. Misalnya,pada masyarakat Enickala-Vandu,salah satu suku di India Selatan.Secara tiba-tiba ibu melakukan situasi kelahiran. suami yang diberitahu soal itu segera bertindak dengan memberikan beberapa lembar kain dengan meletakkannya dibawah kepada istrinya itu.
Menurut W.H. Trethowan, seorang psikiater bangsa inggris, couvade merupakan situasi khusus yang dialamai suami selama istrinya hamil. Tetapi di Barat gejala itu dianggap biasa saja, tanpa perlu terlalu diperhatikan. Banyak calon ayah mengalami perbahan fisik dan mental ketika istrinya hamil. Tetapi gejala ini belum tahu menunjukkan sindrom couvade.
Dalam suatu percobaan terhadap gejala couvade, Trethowan menemukan bahwa calon ayah menderita suatu gejala seperti nafsu makan berkurang, sakit-sakit, mual, dan muntah. Gejala ini lebih sering terjadi pada bulan ketiga masa kehamilan istri dan akan muncul kembali pada bulan terakhir menjelang kelahiran.           
Selain gejala fisik, calon ayah juga mengalamai berbagai gejala lain, misalnya, ia mulai tertarik pada anak bayi. Pada periode ini banyak ayah berusaha membaca banyak buku tentang annak dan tentang peranan orang tua. Juga banyak kegiatan seperti meenyiapkan berbagai fasilitas untuk mempersiapkan kedatangan bayinya. Untuk itu kadang ayah mencari kerja sampingan. Dan ini khususnya terjadi beberapa bulan menjelang kelahiran tiba. Meskipun si calon ayah bertambah jam kerja dengan maksud dapat membeli tempat tidur, ayunan dan beberapa perlengkapan lainnya.
2)      Memberi Dukungan Emosional
Dukungan emosional sangat perlu diberikan pada saat istri hamil, dalam suatu peneitian terhadap 26 pasangan suami istri yang tengah menghadapi kehamilan di California, Johanna Gladiux menyimpulkan, dukungan emosional suami terhadap istri dapat menyebabkan adanya ketenangan bathin dan perasaan senang dalam istri. Dan istri akhirnya lebih mudah menyesuaikan diri dalam situasi kehamilan itu. Suami adalah orang pertama dan utama dalam member dorongan kepada istri sebelum pihak lain turut member dorongan.
Pada fase kedua kehamilan, ketika kandungan istri semakin tampak, maka berbagai pihak luar seperti sahabat, kenalan, sanak keluarga akan memberi dorongan. Dorongan ini sangat membahagiakan si calon ibu. Pada periode ini dukungan dan interaksi sosial adalah kesempatan yang baik. Dialog, cerita, dan mendengar pengalaman-pengalaman dari ibu yang lain merupakan nilai-nilai berharga untuk menumbuhkan pengharapan dan kekuatan pada diri si calon ibu. Pada fase kedua ini peranan orang lain, sahabat, keluarga menjadi lebih penting bila dibandingkan pada fase pertama.
Yang tidak kalah menarik pada masa kehamilan adalah sikap ayah sendiri. Sang suami semakin tertarik pada istrinya dan berusaha menciptakan hubungan yang positif. Dan setelah si bayi lahir, ia ingin membelai dan memegangnya, namun ia mengalami kesulitan bagaimana memegang dengan cara yang baik. Sesungguhnya masa kehamilan adalah masa yang indah asal sang ayah berperan aktif dalam situasi ini. Perilaku suami yang baik bisa membuat sang istri menjadi bahagia dan menghayati masa kehamilan dengan tenang.
3)      Bagaimana Mengasuh Anak yang lain
Ketika hamil, praktis seorang ibu kurang memperhatikan anak-anaknya yag lain. Peran ini dapat diambil ahli oleh ayah. Ayah dapat menjaga anak-anak ini untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan mengarahkan kepada mereka supaya menerima anggota yang baru.
Keterlibatan ayah ini lebih menonjul pada masa ini sebelumnya. Cecily legg, ivan sherick dan wiliam Wadland meneliti bagaimanareaksi anak terhadap adiknyanya yang baru lahir. Mereka menemukan sejumlah reaksi negative. Anak-anak mengungkapkan rasa tidak senang karena si kecil buang air kecil sembarangan, menangis di waktu malam. Bantuan dan perhatian ayah sangat penting pada situasi seperti ini. pada masa kehamilan tidak hanya sikap memahami tetapi juga sikap sabar mesti dimiliki ayah. Tingkah laku anak-anak yang sudah besar pada periode ini kadang-kadang aneh yang menyebabkan ibu mudah tersinggug.
4)      Pengaruh Kehadiran Seorang Ayah Waktu Istrinya Bersalin
Ayah sebagai pendamping istri nya saat melahikan ikut memainkan peranan penting yaitu: pertama suami mengukur lamanya waktu kontradiksi bernapas seirama dengan istrinya, membantu menopang istrinya pada detik-detik kontradiksi, memijit-mijit punggung istrinya, menyuguhkan minuman menyampaikan pesan istrinya kepada perawat dan dokter, memberikan perhatian yang terus-menerus dan mendorong semangat. Kedua, suami dengan sabar dan setia mendampingi istrinya yang tengah menghadapi situasi kritis, menghibur, dan memberikan harapan, menguatkan hati, dan mengatakan “Sabar saying kesulitan ini akan segera berlalu”.
5)      Peran Ayah ketika Ibu Operasi Caesar
Pada waktu operasi caesar, kehadiran ayah sesungguhnya sangat penting dan membawa dampak positif. Kehadiran itu akan memberi kekuatan bagi istrinya. Ketika bagian-bagian tertentu tubuh dibius, ibu masih memiliki sisa kesadaran dan kewaspadaan. Dalam keadaan krisis macam ini, ibu bisa merasa diteguhkan oleh kehadiran suami.

C.    HUBUNGAN BAYI  DENGAN AYAH
Hubungan antara bayi yang baru lahir dengan ayahnya adalah sebagai Reaksi awal dan memahami Isyarat Bayi. Pada saat bayi lahir, Pengetahuan dan keterampilan ayah dalam memahami setiap aksi dan reaksi anaknya sama dengan reaksi istrinya, yaitu bagaimana respon mereka mampu menanggapi setiap maksud bayi seperti suara dan gerakan mulut. Gerakan mulut seorang bayi seolah-olah mengucapkan sesuatu dan dapat ditanggapi oleh ibu maupun ayah. Orang tua akan memberikan respon ataupun reaksi misalnya senyuman. Interaksi-interaksi antara ayah dengan bayi itu ada pengaruh timbal balik, yaitu ayah memberi reaksi atas gerak-gerik bayi. Dengan kata lain, aktivitas bayi menimbulkan reaksi ada ayah. 
Berawal dari sinilah bayi mulai mengenal, mengamati setiap stimulus. Interaksi ini secara tidak langsung mengembangkan komunikasi terhadap dunia sosial. Pengaruh awal ini membentuk nilai yang penting dalam control sosialnya. Kelak anak juga akan mempengaruhi orang lain berkat adanya sikap yang tertanam sejak awal ini.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Tidak hanya sosok Ibu, sosok Seorang ayah juga berperan sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi, Hasil penelitian terhadap perkembangan anak yang tidak mendapat asuhan dan perhatian ayah menyimpulkan, perkembangan anak menjadi pincang. Kelompok anak yang kurang mendapat perhatian ayahny cenderung memiliki kemampuan akademis menurun, aktifitas sosial terhambat, dan interaksi sosial terbatas. Bahkan bagi anak laki-laki, ciri maskulinnya (cirri-ciri kelakian) bisa menjadi kabur.



















DAFTAR PUSTAKA
Dagun, Drs.Save. M, Psikologi Keluarga, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002

Kelompok 5


Tugas kelompok                                                                                        Dosen pembimbing Bimbingan Konseling Keluarga                                                                                             M. Pahli Zatra Hadi, M.Pd 

MAKALAH
Cinta Kasih keluarga





DISUSUN:
Azwan
Silvi Andriani
Praseno Melando


JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SULTAN SYARIF KASIM (UINSUSKA) RIAU PEKAN BARU
T.A 2014/2015






 
BAB I                                                                                                                                             Pendahuluan
            Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, akan tetapi mempunyai pengaruh yang besarbagi bangsa dan Negara. Dari keluargalah akan terlahir generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa. Apabila keluarga dapat menjalankan fungsi dengan baik, maka dimungkinkan tumbuh generasi yang berkualitas dan dapat diandalkan yang akan menjadi pilar-pilar kemajuan bangsa. Sebaliknya bila keluarga tidakdapat berfungsi dengan baik, bukan tidak mungkin akan mengfhasilkan generasi-generasi yang bermasalah yang dapat menjadi beban soasial masyarakat. Keberfungsian keluarga sangat ditentukan oleh proses-proses yang berlangsung didalamnya. Tingkat sosial ekonomi keluarga mungkin memberikan sumbangan bagi keberhasilan keluarga menjalankan fungsinya.
Namun sesungguhnya proses-proses yang menentukan keberfungsian keluarga tidak tergantung pada tingkat sosial ekonomi. Sudah banyak bukti yang menunjukkan keluarga-keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah yangf berhasil mengantarkan anak-anak mereka menjadi sosok-sosok yang diandalkan. Demikaian juga tidak sedikit keluarga yang bergelimang harta yang mengalami kemerosotan karna anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah.
Keluarga yang tentram, bahagia, dan sejahtera merupakan dambaan setiap manusia. Untuk mewujudkan keluarga sebagaimana yang didambakan merupakan usaha yang tidak mudah, karna terbentuknya keluarga merupakan sebuah proses yang panjang dan melalui penyesuaian yang juga tidak mudah. Mengingat keluarga terbentuk dari dua pribadi yang berasal dari keluarga yang berbeda, memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda pula. Perbedaan-perbedaan tersebut seringkali menjadi pemicu terjadinya kesalahpahaman dan keributan antar pasangan. Bila tidak segera teratasi maka kesalahpahaman dapat berlanjut menjadi konflik berkepanjangan yang bisa berakhir pada perceraian pasanagan. Akan tetapi dengan usaha yang terus menerus untuk saling memahami dan mengerti karakteristik pasanagn, maka tindakan-tindakan yang memicu keributan pasangan dapat dicegah. Kalau pun sampai terjadi keributan, perlu diupayakan agar hal tersebut dapat dihadapi denagan cara dewasa yakni denagan mengelolanya secara konstruktif sehingga ditemukan jalan keluar yang dapat diterima bersama.




BAB II                                                                                                                                                      Pembahasan
A.    Cinta kasih keluarga
Cinta adalah suatu perasaan yang hadir didalam diri seseorang, semua orang sudah dapat dipastikan memiliki rasa cinta. Perasaan cinta itu pun bermacam-macam ada perasaan cinta terhadap keluarga, perasaan cinta terhadap teman-teman, perasaan yang hanya merupakan kemauan atau keinginan hawa nafsu, perasaan sesama atau disebut kasih sayang, perasaan terhadap dirinya sendiri (narsisme), dan perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme.
Sehingga dapat kita pahami bahwa “cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut”.     
Cinta kasih merupakan hal yang sangat penting didunia ini, sehingga ada pepatah yang mengatakan cinta dan kasih akan membuat dunia ini menjadi indah, tanpa cinta kasih maka mustahil kedamaian diatas dunia ini akan terwujud. Namun sangat disayangkan banyak diantara manusia yang mengalami yang namanya “krisis cinta kasih” dan cinta kasih mereka pudar seiring berjalannya waktu. Mengapa hal demikian terjadi ? ini dikarnakan banyak orang yang tidak mengerti bahwa kunci untuk memiliki cinta dan kasih agar tidak pudar ialah membagi cinta dan kasih kepada orang lain bukan hanya menerimanya saja.
“Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan mana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak. Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak yang belum dewasa.” [1] Definisi keluarga menurut beberapa para ahli:
Ø  Menurut Duval (1997) keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggota.
Ø  Menurut Bailon dan Magalaya (1978) mengemukakan bahwa keluarga adalah sebagai dua atau lebih individu yang berhubungan karena hubungan darah, ikatan perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi atau satu samalain dalam perannya, menciptakan dan mempertahankan satu budaya (Supartini, 2004).
Pada dasarnya setiap pasangan yang akan menjalin hubungan yang diikat dalam tali pernikahan mengharapkan akan terwujudnya keluarga yang damai, aman, dan tentram. Untuk mencapai itu semua sangat dibutuhkan sebuah aksi/kegiatan aktif yang harus dilakukan oleh setiap keluarga terhadap keluarganya sendiri seperti: pengorbanan, perhatian, empati, patuh dan kasih sayang, sehingga apabila hal yang demikian dapat dan berhasil diaplikasikan maka untuk terwujudnya cinta dan kasih dalam sebuah keluarga akan dapat terealisasi sesuai dengan yang diharapkan. Didalam pembahasan cinta kasih keluarga kami membahas beberapa sub berikut ini penjelasannya:
1.    Pembinaan keluarga sejahtera
Untuk membentuk sebuah keluarga yang sejahtera perlunya pembelajaran tentang pendidikan nilai dalam keluarga itu sendiri, pendidikan nilai yang dimaksud adalah: mengajarkan tentang pentingnya beribadah, mengajarkan nilai jujur, mengajarkan nilai hormat, mengajarkan nilai rukun dan mengajarkan nilai pencapaian prestasi.[2]
Pembinaan keluarga sejahtera merupakan upaya menyeluruh dan terpadu  yang dilakukan oleh sebuah keluarga untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat dilaksanakan sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Adapun aspek-aspek yang dimaksud adalah:
a.    Aspek agama
Agama memiliki peran penting dalam membina keluarga sejahtera. Agama yang merupakan jawaban dan penyelesaian terhadap fungsi kehidupan manusia adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada tuhan yang maha esa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan berpegang pada suatu agama yang diyakininya agar pembinaan keluarga sejahtera dapat terwujud sejalan dengan apa yang diajarkan oleh agama.
Dalam islam terdapat konsep keluarga sakinah yakni keluarga yang tentram dimana suami istri dituntut untuk menciptakan kehidupan rumah-tangga yang harmoni antara kebutuhan fisik dan psikis.yang dimaksud psikis adalah menjadikan keluarga sebagai basis pendidikan sekaligus penghayatan agama anggota keluarga. Kesakinahan merupakan kebutuhan setiap manusia. Karena keluarga sakinah berarti keluarga yang terbentuk dari pasanagan suami istri yang diawali dengan memilih pasangan yang baik,kemudian menerapkan nilai-nilai islam dalam melakukan hak dan kewajiban rumah tangga serta mandidik anak dalam suasana mawaddah warrohmah.
b.    Aspek pendidikan
Kehidupan kita dimulai dari lingkungan keluarga. Kita besar dan dididik didalam keluarga kita, orang tua yang menagajar kita bagaimna kita harus bertindak. Orang tua juga yang membesarkan kita dengan pendidikan dan etika. Pendidikan dilingkungan keluarga sangatlah penting, namun seringkali dianggap tidak penting. Etika yang benar harus diajarkan kepada anak semenjak kecil, sehingga ketika seorang anak beranjak menjadi dewasa ia akan berperilaku menjadi baik pula. Tentu saja perilaku orang tua juga harus baik dan benar sebagai contoh untuk anak-anaknya. Jikalau semenjak kecil anak-anak dididik dengan baik dan benar maka keluarga tersebut akan harmonis dan seandainya setiap keluarga mengajarkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.
c.    Aspek ekonomi
Untuk mewujudkan sebuah keluarga sejahtera aspek ekonomi juga sangat perlu kita perhatikan, jika kita cermati secara mendalam, selama ini pemerintah mengelompokkan keluarga diindonesia kedalam dua tipe. Tipe pertama kita kenal dengan tipe keluarga pra-sejahtera. Yang kita bayangkan setelah mendengarkan keluarga yang tipe ini bayangan keluarga yang masih mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang berupa sandang, pangan, dan papan. Keluarga pra-sejarah identik dengan keluarga yang anaknya banyak, tidak dapat menempuh pendidikan secara layak, tidak memiliki penghasilan tetap, belum memperhatikan masalah kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyai masalah tempat tinggal dan masih perlu mendapatkan bantuan sandang dan pangan. Kedua tipe keluarga sejahtera tipe keluarga ini merupakan keluarga yang sudah tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, kiranya perlu dilakukan pembenahan dimana keluarga agar dapat diarahkan untuk menjadi keluarga yang secara sadar dan proaktif berjuang menjadi keluarga yang sehat dan sejahtera. Istilah yang kiranya tepat dan berbau promotif adalah membangun keluarga yang kreatif, yakni keluarga yang mampu mengenali permasalahan keluarganya masing-masing. Persoalannya adalah bagaimana kita mampu melakukan pembunaan terhadap keluarga agar berkembang menjadi keluarga kreatif.
d.   Aspek sosial budaya
Konsep perkembangan sosial mengacu pada prilaku anak dalam hubungannya dengan lingkungan sosial untuk mandiri dan dapat berintraksi atau menjadi manusia sosial. Melalui proses interaksi sosial tersebutlah seorang anak akan memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan prilaku-prilaku penting yang diperlukan dalam partisipasinya dimasyarakat kelak, atau dikenal juga dengan sosialisasi. Hal ini sejalin dengan yang dikatakan oleh Zanden (1986) bahwa kita terlahir bukan sebagai manusia dan bukan akan menjadi manusia hanya jikalau melalui proses interaksi dengan orang lain. Terdapat tiga elemen utama dalam struktur intetrnal keluarga untuk terciptanya keluarga sejahtera:
Ø Status sosial, dimana didalam keluarga distrukturkan oleh tiga unsur utama, yakni bapak/suami, ibu/istri, dan anak-anak, sehingga keberdaan status sosial menjadi penting karna dapat memberikan identitas kepada individu serta memberikan rasa memiliki karna ia merupakan bagian dari system tersebut.
Ø Peran sosial, yang menggambarkan peran dari masing-masing individu atau kelompok menurut status sosialnya.
Ø Norma sosial, yaitu standar tingkah laku berupa sebuah peraturan yang menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosial.

2.    Penyesuaian dalam pernikahan
Hurlock (2000) mendefinisikan penyesuaian pernikahan adalah sebagai proses adaptasi antara suami dan istri, dimana suami dan istri tersebut dapat mencegah terjadinya konflik dan menyelesaikannya dengan baik melalui proses penyesuaian diri. Lasswel dan lasswel (1987) mengatakan bahwa penyesuaian pernikahan adalah dua individu yang belajar untuk mengakomodasi, kebutuhan, keinginan dan harapan masing-masing, ini berarti mempunyai tujuan demi tercapainya suatu drajat kebahagiaan dalam hubungan.
Penyesuaian pernikahan juga merupakan suatu proses memodifikasi, mengadaptasi dan mengubah individu dan vola prilaku pasangan serta adanya interaksi untuk mencapai kepuasan yang maksimum dalam pernikahan (De Genova, 2008) Atwater (1990) juga menambahkan bahwa penyesuaian pernikahan merupakan perubahan dan penyesuaian dalam kehidupan pernikahan yang meliputi beberapa aspek dalam kehidupan pernikahan, seperti penyesuaian hidup bersama, penyesuaian peran baru, penyesuaian terhadap komunikasi dan penyelesaian konflik, serta penyesuaian terhadap hubungan seksual dalam pernikahan dan penyesuaian terhadap kewarganegaraan.
Oleh karna itu pemakalah coba menyimpulkan bahwa penyesuaian pernikahan itu ialah suatu proses yang mana dua orang yang memasuki tahap pernikahan mulai membiasakan diri dengan situasi yang baru sebelumnya belum pernah dia alami yang telah berubah statusnya sebagai suami istri serta saling menyesuaikan antara kebutuhan, keinginan dan harapan, dan saling menyesuaikan diri dibeberapa aspek pernikahan untuk mencapai kepuasan yang diinginkan sesuai dengan harapan dalam pernikahan tersebut.




3.    Masa-masa krisis dalam pribadi
Definisi krisis yakni suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang yang mengganggu keseimbangan selama mekanisme coping (tingkah laku) individu tersebut tidak dapat memecahkan masalah gangguan internal yang disebabkan oleh kondisi penuh stres atau yang dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman selama krisis, individu kesulitan dalam melakukan sesuatu, coping yang biasa digunakan tidak efektif lagi dan terjadi peningkatan kecemasan.
Krisis pribadi ini juga sering dirasakan oleh pasangan suami dan istri yang baru memulai kehidupan barunya. Tahun pertama pernikahan sering digambarkan sebagai masa krisis. Hal ini dikarenakan kebanyakan masalah dalam pernikahan muncul di tahun pertama. Berikut ada beberapa krisis ditahun pertama pernikahan yang sering dialami oleh pasangan yang baru memulai kehidupan berumahtangga:
a.    Berbagi pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga tetap harus dibagi. Bukan hanya wanita yang harus mengerjakan tugas rumah, melainkan juga pria. Pasangan yang baru menikah sering mengalami pertengkaran kecil perihal siapa yang mengerjakan tugas rumah yang berujung pada adu mulut yang tidak berkesudahan.
b.    Kebersihan diri pribadi
Kebiasaan kotor dan jorok yang dilakukan pasangan menjadi penyulut pertengkaran dalam rumah tangga. Jika kebiasaan itu tidak diubah, kedua pasangan akan terus bertengkar dan berakhir pada ketidakcocokan antar satu sama lain.
c.    Masalah keuangan
Masalah keuangan bisa menjadi masalah yang sensitif bagi setiap pasangan yang baru menikah. Sebaiknya, sebelum menikah, Anda dan pasangan sudah mulai menyusun "peta" tentang masalah keuangan kalian. Siapa yang membayar tagihan atau bagaimana cara menabung uang bulanan.
d.   Perbedaan gaya hidup
Perbedaan gaya hidup bisa menjadi penyebab pertengkaran setelah menikah. Misalkan,
e.    Waktu bersama teman
Setelah menikah, Anda tidak lagi memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan teman. Jadi, mulailah terbiasa dengan kondisi itu karena Anda telah terikat dalam pernikahan.
f.     Perang ego
Pasangan yang baru menikah masih enggan untuk menahan ego masing-masing. Mereka masih butuh waktu untuk berdamai dengan ego mereka sendiri dan pasangan. Siapa pun tentu butuh beradaptasi setelah menikah.
Inilah fenomena yang kerap terjadi pada pasangan suami dan istri masalah-masalah dalam sistem keluarga dapat datang dari empat sumber yakni: kontak salah satu anggota dengan kekuatan diluar keluarga, kontak seluruh anggota keluarga dengan kekuatan diluar keluarga, stress pada titik transaksi dalam keluarga, dan stres yang timbul disekitar problem anggota yang berkebutuhan khusus atau keabnormalan fisik.[3]

































BAB III                                                                                                                                                    Penutup
A.      Kesimpulan
Menurut Indra Noveldy (konsultan perkawinan) masalah dalam perkawinan bisa diibaratkan seperti kanker. Kalau kita dapat mengatasinya pada saat stadium awal, maka ini sangant memungkinkan pasangan tersebut masih bisa menyelamatkan perkawinan mereka. Tetapi jika terjadi penundaan hingga masuk ke stadium lanjut, bisa menjadi ‘kanker’ yang sudah menyebar dan terlanjur parah, sehingga hubungan dalam pernikahan terancam bubar.
Hanya saja, cara setiap orang mengatasi masalah berbeda-beda. Ada yang memilih flight  atau ‘lari’ dan membiarkan masalah berlarut-larut. Ada yang memilih fight atau berjuang mengatasi masalah dan bertahan untuk bersama. Cara kedua inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pasangan sehingga perceraian tidaklah semata-mata menjadi akhir atau tujuan dalam berumah tangga. Sayangnya, tidak semua pasangan memiliki mental juang untuk mengatasi masalah, sehingga mereka memilih jalan pintas, yaitu berpisah.
Wujud dari sebuah keluarga adalah keluarga inti, yang terdiri dari bapak, ibu dan anak juga dapat berupa keluarga besar (extended) yang terdiri dari bapak, ibu, anak, kakek, nenek maupun anggota keluarga yang lain. Dalam pembentukan keluarga dibutuhkan penyesuaian yang sehat dan baik antara anggota yang satu dengan yang lainnya. Penyesuaian tersebut akan menjadi modal bagi ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun luar keluarga sehingga cita-cita supaya terwujudnya keluarga sejahtera yang memiliki cinta dan kasih akan terwujud.
Jika saja banyak keluarga Indonesia yang berkembang kearah keluarga kreatif, dapat kita yakini bersama bahwa semakin hari banyak keluarga Indonesia yang mampu mewujudkan diri menjadi keluarga yang sehat, sejahtera, dan mandiri. Sehingga pemerintah tidak perlu lagi banyak mengeluarkan anggaran yang bersifat konsumtif untuk masyarakat.
Jadi keluarga sejahtera yang penuh dengan cinta kasih adalah keluarga yang selalu berusaha melakukan cara-cara yang terbaik disaat masalah yang akan muncul dalam kehidupan mereka, dan tidak menjadikan masalah sebagai beban tetapi menjadikan masalah sebagai bagian dari tantangan hidup berumah tangga untuk terwujudnya keluarga yang bahagia.







Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu, Drs. H., Psikologi Sosial, PT. Rineka cipta, Jakarta, 1991.
Lestari Sri., Psikologi Keluarga, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2012


[1]         Drs. H. Abu Ahmadi, 1991, Psikologi Sosial, Jakarta: Rineka cipta, hal. 239
[2]        Sri Lestari, 2012, Psikologi Keluarga, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal. 167-171

[3]        Sri Lestari, 2012, Psikologi Keluarga, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal. 27